Chicklit dan Metropop, Teman Saya di Masa Lajang

Chicklit dan Metropop, Teman Saya di Masa Lajang


Seiring bertambahnya usia, referensi bacaan saya pun ikut berubah. Ketika masih berusia belasan tahun, buku bacaan saya tak jauh-jauh dari cerita anak sekolah seperti serial Lupus, Trio Detektif, dan novel-novel karya Enid Blyton.

Memasuki masa kuliah, saya mulai membaca cerita yang lebih sesuai dengan kehidupan orang dewasa. Apalagi saat itu saya sempat bekerja paruh waktu di sebuah rental buku. Bagi saya, bekerja di tempat seperti itu rasanya seperti mendapat kesempatan membaca banyak buku secara gratis. Di sela-sela pekerjaan dan tugas kuliah, saya bisa memilih buku yang ingin dibaca.

Salah satu yang paling saya ingat tentu saja Harry Potter. Saya masih ingat ketika Harry Potter kelima datang ke rental buku tempat saya bekerja. Sayangnya, buku itu sudah ada yang memesan sehingga saya tidak bisa langsung membacanya. Saya baru bisa membacanya setelah buku tersebut berpindah dari satu pembaca ke pembaca lainnya.

Namun, dari sekian banyak bacaan yang menemani masa kuliah hingga masa lajang, ada dua jenis novel yang paling saya sukai: chicklit dan Metropop.

Kenapa Saya Suka Chicklit?



Awal tahun 2000-an bisa dibilang menjadi masa ketika novel chicklit cukup populer. Ceritanya banyak berkisah tentang perempuan lajang yang sedang menjalani kehidupan sebagai orang dewasa: bekerja, berteman, menghadapi masalah keuangan, jatuh cinta, patah hati, sampai memikirkan masa depan.

Buat saya yang saat itu juga sedang berada di usia dua puluhan, cerita seperti ini terasa dekat.

Tokoh-tokohnya pun tidak selalu digambarkan sebagai perempuan yang sempurna. Mereka bisa salah mengambil keputusan, punya masalah pekerjaan, boros, salah memilih pasangan, atau bingung menentukan arah hidup.

Mungkin sekarang kita lebih sering mengenal istilah seperti quarter-life crisis, healing, atau self-improvement. Namun pada masa itu, saya menemukan berbagai kegelisahan perempuan dewasa tersebut melalui novel chicklit.

Salah satu yang paling saya ingat tentu saja serial Shopaholic karya Sophie Kinsella.

Saya pertama kali menemukan salah satu novel Shopaholic di rak perpustakaan kota tempat saya dulu kuliah. Bukunya bukan seri pertama, tetapi justru dari situlah saya kemudian mencari novel-novel Sophie Kinsella lainnya.

Tokoh utamanya, Becky Bloomwood, adalah perempuan lajang yang punya masalah keuangan karena hobinya berbelanja. Melihat sesuatu yang lucu di etalase toko saja bisa membuat Becky merasa benda itu harus dimiliki.

Berbeda dengan Becky, saya termasuk orang yang cukup berhati-hati kalau soal belanja. Jadi kadang-kadang saya sampai geleng-geleng kepala membaca tingkah Becky.

Kesal, iya. Tapi tetap saja saya menyukai tokoh ini.

Mungkin justru karena Becky tidak sempurna itulah saya merasa ceritanya menarik. Ia bisa membuat keputusan yang konyol, mengalami masalah, kemudian berusaha mencari jalan keluar dari masalah tersebut.

Lalu, Kenapa Saya Suka Metropop?

Kalau chicklit membawa saya mengenal cerita perempuan lajang dari luar negeri, Metropop membuat cerita serupa terasa lebih dekat dengan kehidupan saya.

Tokoh-tokohnya adalah perempuan Indonesia. Mereka bekerja, berteman, punya keluarga, menghadapi masalah percintaan, memikirkan karier dan masa depan. Lingkungan yang diceritakan pun terasa lebih familiar.

Saya kemudian mengenal novel-novel karya Ika Natassa. Saya punya kesan yang cukup unik terhadap penulis yang satu ini. Kadang kehidupan tokoh-tokohnya terasa seperti sesuatu yang cukup jauh untuk saya jangkau, tetapi di sisi lain tetap ada bagian yang terasa dekat, terutama karena tokoh-tokohnya juga perempuan pekerja.

Beberapa novelnya yang pernah saya baca adalah Twivortiare, Antologi Rasa dan Critical Eleven.

Selain Ika Natassa, saya juga suka karya Almira Bastari. Saya pertama kali mengenalnya lewat Resign dan langsung menyukai gaya menulis serta karakter-karakternya.

Di mata saya, novel-novel Almira Bastari sangat mewakili kehidupan perempuan lajang ibu kota dari berbagai fase. Ada cerita tentang tokoh utama yang ingin resign, galau karena diputusin sang pacar, sedang mengumpulkan uang untuk memiliki rumahnya sendiri, hingga yang memulai bisnisnya sendiri. Semua kisah ini diramu dengan sangat baik oleh Almira Bastari.

Penutup

Kalau dipikir-pikir sekarang, ternyata novel-novel yang saya baca di masa lajang bukan sekadar bacaan untuk mengisi waktu luang.

Saat itu saya sedang belajar menjadi perempuan dewasa. Saya sedang berhadapan dengan pekerjaan, pertemanan, hubungan, uang, dan pertanyaan tentang masa depan. Jadi ketika menemukan tokoh perempuan yang mengalami kegelisahan yang kurang lebih sama, rasanya seperti menemukan teman di dalam buku.

Mungkin itu sebabnya sampai sekarang saya masih mengingat beberapa judul dan tokoh dari buku-buku tersebut. Mereka pernah menemani satu fase dalam hidup saya, ketika saya masih sendiri, masih banyak bertanya tentang masa depan, dan masih belajar memahami diri sendiri.

Dan ternyata, buku memang bisa seperti itu. Ia tidak selalu mengubah hidup kita, tetapi kadang hadir tepat pada masa ketika kita sedang membutuhkannya.



Posting Komentar

20 Komentar

  1. Buku-bukunya Almira Bastari emang bagus yaa. Apalagi Agensi Rumah Tangga yang sangat relate dengan kehidupan masa kini.

    Kalau karya Sophie Kinsella sampai sekarang juga masih kubaca (sayang doski udah meninggal).

    BalasHapus
  2. Serius seiring berjalannya waktu, seleksi alam akhirnya kita temukan juga ya.
    Termasuk dalam hal bacaan

    Waktu masih kerja di luar negeri saya juga banyak baca soal perempuan lajang yang sedang menjalani kehidupan sebagai orang dewasa. Mulai kisah pekerjaan, pertemanan, menghadapi masalah keuangan, jatuh cinta, patah hati, sampai memikirkan masa depan.

    Dan betul semakin kita bertambah usia semakin beda lagi bacaan yang dirasa cocok.
    Itu karena memang kita tengah beradaptasi ya
    cerita yg terasa dekat dengan kondisi kita saat itu yg kita pilih.

    Saat sedang belajar menjadi perempuan dewasa, berhadapan dengan pekerjaan, pertemanan, hubungan, uang, dan pertanyaan tentang masa depan. Jadi ketika menemukan tokoh perempuan yang mengalami kegelisahan yang kurang lebih sama, rasanya seperti menemukan teman di dalam buku.

    BalasHapus
  3. Pas SMA aku suka baca metropop mbak. Pas baca metropop gini, dulu kayak ada perasaan, seru ya jadi anak kota, punya temen kantor, kayak belum punya bayangan realita kehidupan sebenarnya dari cerita metropop gitu. Dulu aku baca bukunya Fira Basuki yang Panggil aku miss B, itu novel karya penulis indonesia pertama yang kubaca. Pas kubaca ulang ketika kerja kok, jadi beda ya feelnya. Nggak se-exited pas masih Remaja.. hihihi..

    Ini aku juga lagi ngincer beberapa buku metropop buat selingan pas lagi mager baca yang berat-berat. Entah kapan bisa ceki-ceki di keranjang orange ini.. huahaha.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh aku baca buku karya Mbak Fira Basuki juga, bagus diksinya.
      Kalau shopaholic series emang bagus ya dan gak kebayang bagaimana dulu riset mendiang penulisnya, kok bisa tahu butik dan barang-barang fashion kelas atas yang harganya sangat mahal.

      Hapus
  4. Metropop nih hiburan bangeettt, utamanya buat yang mengalami quarter life crisis.
    Kayak apa yhaaa, semacam "teman karib" yang bisa releasing stres gitu loh.
    Walopun kalo metropo yg Ika Natassa punya , biasanya rentan menerbitkan iri dengki, wkwkwkwwk

    BalasHapus
  5. Daku juga suka cicklit, karena waktu SMA temen suka membeli buku itu, dan daku bagian meminjam bukunya hahah. Dari buku bacaan, memang memberikan insight yang powerfull dalam membentuk karakter kita sebagai pembacanya. Di sini ini jadi reminder agar bisa memilih bacaan yang tepat juga ya.

    BalasHapus
  6. Tulisan tulisan Metropop kaya karyanya Ika Natassa atau Almira Bastari, rasanya makin dekat karena setting sama masalahnya relate banget sama kehidupan sehari hari kita. Kadang tuh kita ngerasa cuma butuh bacaan yang ngertiin kegelisahan kita tanpa harus menghakimi.
    Ternyata buku emang bisa jadi pelipur lara paling jujur ya. Hmmmmmm kalo pengemar Chicklit mana nih suaranya?

    BalasHapus
  7. Soal persewaan buku, di depan kampus saya dulu juga ada persewaan yang jadi langganan. harganya pun cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa. Koleksinya pun beragam. Harpot dan LOTR juga sewa di sana. Novel chicklit dan metropop juga banyak. Kalau yang paling aku ingat tentang buku metropop kala itu adalah buku-bukunya Ilana Tan.

    BalasHapus
  8. Aku suka cara Kakak menjelaskan kenapa chicklit terasa dekat, karena tokohnya nggak sempurna dan bisa salah ambil keputusan, jadi kita merasa nggak sendirian. Dan Metropop memang beda ya, latar dan tokohnya terasa lebih dekat dengan kita. Critical Eleven itu juga salah satu favoritku. Seakan mendadak pengen resign tapi tabungan masih mini

    BalasHapus
  9. Aku suka cara Kakak menjelaskan kenapa chicklit terasa dekat, karena tokohnya nggak sempurna dan bisa salah ambil keputusan, jadi kita merasa nggak sendirian. Dan Metropop memang beda ya, latar dan tokohnya terasa lebih dekat dengan kita. Critical Eleven itu juga salah satu favoritku. Seakan jadi punya niatan resign

    BalasHapus
  10. Zaman dulu, asyik sekali bisa baca buku fisik, tetapi sekarang kok rasanya berat sekali, ya? Soalnya, sama-sama membaca, tetapi sekarang lewat aplikasi, jadi tidak lagi ke buku fisik. Yang saya rasakan juga, tingkat fokus sudah makin berkurang untuk membaca buku fisik. Ini yang mengerikan sebenarnya. Padahal, membaca buku fisik itu bisa melatih fokus dan melatih pikiran juga.

    BalasHapus
  11. Saya lebih suka yg metropop karena tokoh2nya biasanya wanita Indonesia. Kehidupannya lebih relatr dengan sehari-hari. Wanita lajang yg mengejar karier dan membangun masa depan, dan mungkin kehidupan percintaannya juga, serta lingkungan sehari-hari yg lebih familiar.

    BalasHapus
  12. Saya biasanya lebih suka baca Metropop, misalnya karya Ika Natassa. Ceritanya banyak yang girl power gitu. Jadi lebih termotivasi

    BalasHapus
  13. Wah genre chicklit hingga metropo ini emg sempat booming di era 2000an sih. Bahkan dulu anak2 Forum Lingkar Pena yang biasanya menulis cerpen novel Islami juga bergeser ke arah 2 genre ini. Biar bs meraup pasar lbh banyak.

    Dan emg bener sih 2 genre ini emg laku keras di pasar. Gerai buku emg mayoritas bgt nyediain 2 genre novel ini. Ada yg tipis2 tapi ada jg yang agak tebel. Tp tetap laris.

    BalasHapus
  14. Sudah lama sekali tidak mendengar chicklit dan metropop yang dulu sering sekali Saya jumpai di toko buku dan sekitarnya. Memang semua ada Zaman nya. Ternyata bacaaan itu memberikan pelajaran bagi pembacanya ya jadi seperti sekarang

    BalasHapus
  15. Saya sepakat kak buku memang tidak selalu mengubah kita, tapi seringkali buku-buku ini hadir saat kita sedang pada kondisi tertentu. Mungkin karena ada dorongan dari alam bawah sadar ya, jadi pas kita ada masalah tentang pekerjaan kita akan menemukan buku-buku yang related. Istilah psikologisnya Mood Congruence, jadi kita tidak merasa sendirian.

    BalasHapus
  16. jadi nostalgia sama chicklit dan metropop, genre yang dulu rasanya dekat banget sama kehidupan anak muda. Menarik juga membahasnya dari sudut pandang teman masa lajang, pasti banyak cerita dan kenangan yang ikut kebawa. Jadi pengin bongkar lagi koleksi buku lama di rumah, heuhe

    BalasHapus
  17. Tahu nggak sih aku sekarang pengen banget punya koleksi novel Harry Potter. Kapan hari ada yang jual sepaket sayang pas nggak ada duitnya T.T.
    pengen anak2ku membaca Harry Potter juga hehe. Dulu mah aku minjem di perpus atau punya temen =))

    Ih beneeerrr. Aku pun masa remajanya baca novel2 kek gitu, trus merasa itu bukan sekadar bahan bacaan melainkan bisa menginspirasi melihat kehidupan gimana tokoh2 dalam novel itu. Apalagi yang kerja kantoran. Dulu ngebayangin akan ada di posisi kek gitu keknya seru yaa. :D

    BalasHapus
  18. Toss mbak, saya pun suka membaca chicklit dan metropop sampai saat ini, walaupun sudah hampir setengah abad umurku. Satu sisi saya belajar diksi dan alur ceritanya, yang kedua saya suka dengan genrenya yang membumi banget, yang ketiga menghibur saya, yang keempat banyak insight yang didapat
    wkwk banyak kan manfaatnya

    BalasHapus
  19. Wah, jadi ingat novel-novel yang dulu sering aku baca juga. Tapi bener sih chicklit dan Metropop bukan sekadar bacaan pengisi waktu, tapi juga teman di (((masa-masa kejayaaan))). Apalagi Becky Bloomwood yang tingkahnya suka bikin geleng-geleng kepala, hahaha. Kalau sekarang banyak banget novel-novel yang dijadikan series dan seru-seru, aku suka nonton di Prime. Hihi.

    BalasHapus