Masa remaja merupakan salah satu masa di mana saya mulai berkenalan dengan berbagai novel dan bacaan fiksi. Di masa itu, jelas saya tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku sendiri. Kalaupun orang tua saya memberikan uang berlebih, biasanya malah saya belikan majalah remaja atau komik Donal Bebek yang waktu itu juga menjadi kegemaran saya.
Untungnya di masa SMA saya sudah berkenalan dengan perpustakaan sekolah sehingga meski tak memiliki koleksi buku sendiri, saya tetap bisa membaca banyak buku cerita. Saya ingat sekali setiap minggu saya bolak-balik ke perpustakaan untuk meminjam berbagai macam novel yang disediakan di sana. Di masa saya remaja, seingat saya bacaan masih didominasi oleh penulis barat luar dan penulis Indonesia tahun 80-an. Jadi bisa dibilang di masa SMP dan SMA saya lebih banyak membaca novel terjemahan
Buku-buku yang Menemani Masa Remajaku di Tahun 90-an
Di masa saya remaja, buku-buku yang saya baca mungkin hanya berakhir dalam ingatan, tanpa pernah dituliskan. Saat itu belum ada sosial media seperti sekarang yang bisa menjadi wadah bagi saya untuk membagikan pengalaman saya setelah membaca buku-buku tersebut. Meski demikian, beberapa buku begitu berkesan di pikiran saya dan selalu saya ingat hingga sekarang.
Berikut adalah buku-buku yang menemani saya menjalani masa remaja di akhir tahun 90-an:
Seri Mallory Towers dan St. Claire - Enid Blyton
Nama Enid Blyton pastinya bukan nama yang asing bagi pecinta buku generasi milenial seperti saya. Banyak sekali buku yang dilahirkan oleh penulis dari Inggris ini. Uniknya, jika remaja lain mengenal Enid Blyton lewat seri Lima Sekawan, maka saya malah mengenal karya beliau lewat seri Si Badung di Mallory Towers.
Seingat saya serial Si Badung di Mallory Towers ini bercerita tentang kehidupan anak-anak sekolah di Mallory Towers, sebuah sekolah berasrama di daerah Cornwall, Inggris. Beberapa nama tokoh dari seri ini adalah Darrel Rivers, Alicia dan juga Gwendoline. Sebagai seorang pelajar, membaca seri Mallory Towers ini sangat menyenangkan untuk saya apalagi dengan berbagai karakter dan kelakuan dari tokoh utamanya.
Selain seri Mallory Towers, saya juga sempat membaca seri sekolah Enid Blyton yang lain yakni seri St. Claire. Nah, kalau seri St. Claire ini tokoh utamanya adalah anak kembar bernama Patricia dan Isabel O'Sullivan. Inti ceritanya juga masih mirip dengan Mallory Towers yang pastinya seru untuk dibaca anak remaja.
Seri Trio Detektif
Selain saya juga cukup sering membaca seri Trio Detektif bersama Alfred Hitchcock. Mulanya saya pikir Alfred Hitchcock ini nama penulisnya eh ternyata saya salah ternyata Alfred Hitchcock dalam novel ini merupakan sutradara ternama Amerika yang dijadikan tokoh dalam seri Trio Detektif. Untuk penulisnya sendiri adalah Robert Arthur yang menulis buku 1 hingga buku 9.
Untuk tokoh utama dari seri Trio Detektif ini adalah Bob, Pete dan Jupiter. Ketiga remaja ini kerap menghadapi berbagai kasus yang berhubungan dengan dunia kriminal. Yang saya ingat, untuk karakter ketiga tokoh ini memiliki ciri khas masing-masing seperti Jupiter yang pandai berdeduksi, Pete yang tangkas dan Bob si kutu buku. Beberapa kasus dari Trio Detektif yang saya baca diantaranya Misteri Puri Setan, Misteri Nuri Gagap, Misteri Jejak Bernyala dan beberapa judul lainnya.
Seri Fear Street
Beralih ke cerita horor, Seri Fear Street yang ditulis oleh R. L. Stine juga menjadi buku-buku yang menemani masa SMP saya. Selain Fear Street, sebenarnya ada juga seri Goosebump yang ditulis R. L. Stine namun saya lebih banyak membaca Fear Street.
Fear Street sendiri merujuk pada sebuah nama jalan di Amerika Serikat dengan berbagai kisah horor yang terjadi di sana. Setahu saya ada beberapa seri dari Fear Street ini mulai dari seri yang menceritakan asal muasal nama jalan itu tercipta di masa lalu dan juga seri yang mengambil setting masa kini (saat buku diterbitkan).
Novel-novel Sidney Sheldon
Beralih ke novel kriminal, masa remaja saya juga diisi oleh novel-novel dari penulis Sidney Sheldon. Dimulai dari perpustakaan di SMA, saya mulai membaca seri kriminal yang genrenya agak dewasa ini dan jujur dibuat terkagum-kagum dengan intrik dan cerita di novel tersebut. Saya bahkan sempat mengira penulisnya adalah perempuan karena namanya Sidney Sheldon.
Beberapa novel Sidney Sheldon yang menjadi favorit saya diantaranya Bila Esok Tiba, Tell Me Your Dreams, Nothing Last Forever, Bloodline dan juga Ratu Berlian. Satu hal yang saya ingat dari novel-novel Sidney Sheldon adalah tokoh utamanya yang selalu perempuan dan mungkin hal inilah yang membuat saya menyukai seri-seri kriminal Sidney Sheldon.
Novel-novel Mira W.
Beralih ke novel lokal, salah satu penulis yang karyanya saya baca di masa remaja adalah Mira W. Bagi remaja tahun 90-an seperti saya sepertinya cukup familiar dengan karya Mira W. karena beberapa novelnya diangkat menjadi judul sinetron yang meraih rating tinggi seperti Jangan Ucapkan Cinta, Ketika Cinta Harus Memilih, Cinta, Bukan Cinta Sesaat hingga Janji Hati.
Jadi bisa dibilang salah satu alasan saya membaca novel Mira W. adalah karena hadirnya sinetron yang diangkat dari novel tersebut. Pastinya saya penasaran dong dengan jalan cerita asli yang ditulis oleh Mira W dan bagaimana akhir dari kisah sinetron tersebut di bukunya.
Hal yang membuat saya kagum dengan Mira W. adalah selain penulis, beliau juga berprofesi sebagai dokter. Karena itu tidak heran jika beberapa karakter di novel yang ditulisnya menggunakan profesi dokter sebagai latar belakangnya.
Serial Lupus
Sebagai remaja tahun 90-an kayaknya tidak afdol kalau saya tidak menyebutkan serial Lupus sebagai salah satu bacaan saya. Karakter legendaris yang diciptakan oleh Hilman Hariwijaya ini juga turut mewarnai masa remaja saya. Kisahnya yang sangat relate dengan dunia remaja lengkap dengan humor segar membuat serial Lupus sangat populer di masanya dan bahkan diangkat menjadi sinetron hingga film.
Penutup
Mengenang kembali bacaan saat saya masih remaja membuat saya sadar bagaimana cepatnya waktu berlalu. Meski demikian memori tentang bagaimana buku-buku tersebut menemani masa remaja saya ternyata masih membekas dalam ingatan. Saya mungkin sudah lupa dengan jalan ceritanya, tetapi kesan yang ditinggalkan oleh novel-novel tersebut masih saya ingat hingga sekarang.
Mungkin itulah yang menarik dari kebiasaan membaca. Buku yang kita baca bertahun-tahun lalu bisa saja selesai dalam hitungan hari, tetapi kenangan tentangnya dapat tinggal jauh lebih lama.
Dan mungkin, beberapa di antara buku-buku itulah yang tanpa saya sadari membuat saya tetap menjadi seorang pembaca sampai hari ini.






.png)
0 Komentar